Penghuni Pertama Makam Baqi’ (Bagian 3)

(Lanjutan Penghuni Pertama Makam Baqi’ Bagian 2)

Penghuni Pertama Makam Baqi'

Walid yang ada di dekatnya berkata, “wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya, sungguh perlindunganmu sangatlah tangguh.”

“Tidak,” jawab Utsman. “Justru mataku yang sehat ini amat membutuhkan pukulan seperti yang dirasakan saudaraku yang berjuang di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Abdi Syams, aku berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu darimu.”

Walid pun menawarkan Utsman agar mau menerima kembali perlindungannya, namun Utsman tegas menolaknya.

Dalam keadaan matanya yang sakit, hati Utsman justru gembira. Ia meyakini bahwa Allah telah menyediakan imbalan yang besar untuknya.

Sejak tak lagi mendapat perlindungan dari Walid, hari-hari Utsman pun menjadi penuh dengan siksaan orang-orang kafir Quraisy. Namun ia manjalaninya dengan tabah, penuh kesabaran, ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman pun ikut hijrah menuju Madinah, dan tak lagi diusik oleh kaum Quraisy.

Di Madinah, Utsman menjalani hari-harinya dengan ibadah yang amat tekun. Siang harinya, ia bagai pahlawan yang selalu berjuang membela kebenaran, dan malam harinya laksana rahib dengan ibadah-ibadah khusyu’nya kepada Allah.

Sifat zuhud dalam hidupnya amat terasa. Bahkan sampai suatu ketika ia datang ke masjid dengan pakaian yang sobek di banyak bagiannya, karena ia tak memiliki baju lain yang lebih bagus dari itu.

Rasulullah pun amat mencintai Utsman ibn Mazh’un. Hingga saat ruh sucinya bersiap kembali pada al-Khaliq, Rasulullah ada di sisinya. Beliau sampai membungkuk dan mencium kening Utsman, seraya kedua pipinya basah dengan deraian air mata.

Wajahnya amat berseri dan tampak bersinar saat Izrail menjemput. Akhir yang begitu indah, dari seorang Muhajirin pertama yang wafat di Madinah. Sekaligus yang pertama jasadnya dikebumikan di Baqi’.

Melepas kepergian sahabat yang amat dicintainya itu, Rasulullah berkata, “Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib. Engkau pergi meninggalkan dunia yang tak satu keuntungan pun kau peroleh darinya, dan tak satu diderita pun yang diterimanya darimu.”

Begitulah sepenggal kisah hidup seorang Utsman ibn Mazh’un, yang jasadnya terbujur di bawah tanah lembut kota Madinah, dan ruhnya tengah bergembira mendapat curahan rahmat dari Tuhannya.

Semoga ruh-ruh kita kelak akan dibersamai oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Aamiin. []

Comments

Tinggalkan Balasan