Bagaimana Sikap dan Prilaku Masyarakat Sekitar Masjid Nabawi?
masyarakat sekitar masjid nabawi

Masjid Nabawi merupakan masjid ketiga yang dibangun Rosulullah setelah beliau memutuskan untuk berhijrah dari mekkah menuju Madinah. Mulai dari awal pembangunan hingga beberapa kali mengalami renovasi, tentu Masjid Nabawi memiliki berbagai macam peristiwa yang membuatnya semakin bertambah kuat.

Dan juga selalu menjadi tujuan para umat muslim untuk beribadah saat berada di kota Madinah. Letak Masjid Nabawi yang tepat berada di tengah-tengah kota Madinah tentu membuat banyak masyarakat muslim bertanya-tanya mengenai seperti apa lingkungan sekitar Masjid Nabawi dan seperti apa masyarakat sekitar Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi yang terletak ditengah-tengah kota membuatnya dikelilingi dengan beberapa bangunan hotel dan tempat-tempat yang digunakan untuk berdagang. Ya, di kota Madinah sendiri sektor ekonominya adalah pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan perhotelan dan penginapan.

Lokasi Masjid Nabawi yang berada di tengah-tengah kota membuatnya dikelilingi oleh jotel-hotel, tempat penginapan dan tempat perdagangan. Setiap hotel yang ada disini memiliki gaya arsitektur Timur Tengah, yang merupakan ciri khas dari Saudi Arabia.

Hotel disini dibangun dengan berjejeran, Dan jarak antara hotel yang satu dengan hotel yang lainnya lumayan luas. Untuk masyarakat yang ada disekitar Masjid Nabawi, juga terlihat berlalu lalang.

Dan untuk wanita asli daerah tersebut kebanyakan menggunakan gamis dengan warna hitam dengan penutup muka. Sedangkan untuk laki-laki ada yang memakai gamis dan ada juga yang memakai baju yang lebih terlihat santai.

Masyarakat Sekitar Masjid Nabawi

Disekitar wilayah Masjid Nabawi juga terdapat masyarakat asli Madinah yang berdagang menjajakan berbagai dagangannya. Dan masyarakat yang berjualan pun penuh dengan keramah tamahannya.

Mereka selalu menjajakan dagangannya dengan cara yang menyenangkan, meski para Jemaah hanya melihat-lihat saja, namun mereka tidak serta merta langsung marah, mereka tetap tersenyum dan tetap memberikan sikap yang ramah.

Bahkan beberapa dari pedagang ada yang bisa berbahasa Indonesia, dan tidak segan-segan untuk langsung berbicara bahasa Indonesia ketika bertemu dengan Jemaah Indonesia, seperti, “Selamat pagi,,,” dan beberapa kalimat lainnya.

Tentunya dengan keramah tamahannya itu membuat para Jemaah semakin berasa di tanai air sendiri dan senang dalam memilih dan membeli berbagai macam oleh-oleh yang diperjual belikan.

Dari luar Masjid Nabawi, para jamaah bisa melihat jam besar yang berada tepat di depan Masjid Nabawi. Dan lebih mengesankannya lagi, disekitar pelataran Masjid Nabawi tersebut dipenuhi dengan ribuan burung merpati yang terbang bebas dan penurut.

Sehingga anda juga bisa merasa seperti layaknya di kota-kota yang ada di Eropa. Dari luar anda juga bisa melihat minaret, anda bisa melihat betapa menakjubkannya desain dari Minaret yang ada di Masjid Nabawi. Bahkan Minaret-minaret pertama yang berjumlah empat memiliki tinggi hingga 26 kaki atau 7,9 m yang telah dibangun oleh Umar.

Dan pada tahun 1307, ada sebuah Minaret yang dikenal dengan julukan Bab Al-salam yang ditambahkan loleh Muhammad bin Kalavun. Yang kemudian direnovasi oleh Mehmed IV dan ada 10 Minaret lagi dengan tinggi 104 m atau 341 kaki.

Dengan keramahan dan rasa kekeluargaan masyarakat sekitar Masjid Nabawi tentu akan membuat Jemaah semakin betah dan menikmati masa-masa beribadahnya dengan lebih tenang dan maksimal. Itulah pandangan mengenai masyarakat sekitar Masjid Nabawi menurut beberapa orang muslim yang sudah berkesempatan untuk datang ke tempat tersebut.

Dan untuk para umat muslim yang belum berkesempatan untuk datang ke tempat-tempat suci kepercayaan orang islam senoga bisa secepatnya berkesempatan untuk beribadah disana.

Comments

Tinggalkan Balasan