Apa Hukum Melaksanakan Badal Umroh ?

badal umroh

Badal Umroh adalah menggantikan orang lain melaksanakan ibadah umroh.ย Syarat orang yang di badal (digantikan) adalah orang tersebut sudah meninggal dunia. Dan setiap melakukan umroh hanya boleh untuk satu orang saja.

Selama ini yang kita tahu bahwasannya yang bisa dibadalkan adalah haji, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูู…ู‘ูู‰ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ููŽู…ูŽุงุชูŽุชู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูุฌู‘ูŽ ุฃูŽููŽุฃูŽุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุญูุฌู‘ูู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ู‘ููƒู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ุฃูŽูƒูู†ู’ุชู ู‚ูŽุงุถููŠูŽุชูŽู‡ู ยป . ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู†ูŽุนูŽู…ู’ . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ููŽุงู‚ู’ุถููˆุง ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ู„ูŽู‡ู ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุกู ยป .

Bahwa Ibnu ‘Abbas menceritakan: “Seorang wanita dari Juhaynah datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan:’ Ibu saya bernadzar untuk melakukan ibadah haji, tetapi tidak melakukannya sebelum dia meninggal. Haruskah aku melakukan haji atas namanya? ‘

“Ya,” jawabnya, “Lakukanlah haji atas namanya. Bukankah jika ibumu memiliki hutang kamu akan membayarnya? “, Wanita ini menjawab:” Iya “, Rasulullah SAW bersabda:” Maka bayarlah, karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk dibayar “[Sahih al-Bukhari (1852)]

ย Selain itu, syarat lain untuk melaksanakan badal haji adalah orang yang pernah melakukan ibadah haji. Sesuaiย  hadits dari Abu Dawud menyebutkan riwayat dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู…ูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎูŒ ู„ูู‰ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุฑููŠุจูŒ ู„ูู‰. ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุญูŽุฌูŽุฌู’ุชูŽ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ ยป.

“Bahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang berkata, ” Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu atas nama Syubrumah “,
Rasulullah SAW berkata: ” Siapakah Syubrumah? ”
Ia menjawab: ” Saudaraku atau kerabatku, ”
Rasulullah SAW berkata: ” Kamu sudah haji untuk dirimu sendiri ? ”
Ia menjawab: ” Belum “.
Rasulullah SAW berkata: “hajilah kamu untuk dirimu sendiri (dulu), kemudian kamu haji atas nama Syubrumah”.
[ Hadist Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani kitab Irwa Al Ghalil, 4/171]

Wajibkah Melaksanakan Badal Umroh?

Pada dasarnya umroh dan haji memiliki hukum yang berbeda, walaupun pelaksanakaannya hampir sama namun hukum ibadah umroh adalah sundah muakkad dan hukum ibadah haji adalah fardhu atau wajib.

Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk menggantikan ibadah umroh (badal umroh) orang yang sudah meninggal kecuali orang tersebut selama hidupnya sudah bernadzar akan melaksanakan ibadah umroh, maka hukumnya menjadi wajib bagi ahli waris atau yang mewakilkan karena telah bernadzar.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุทููŠุนูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ููŽู„ู’ูŠูุทูุนู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตููŠูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุตูู‡ู . [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA. Dari Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah maka hendaknya ditaati (diuangkan), dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah ia (tunaikan nazarnya) untuk berbuat maksiat.” [Hadist Riwayat al- Bukhari]

Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Badal Umroh?

Para ulama mengatakan bahwa hukum badal umrah sama dengan hukum badal haji

Dalamย  Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah ย juz ke-30, hlm. 328-329 dalam pembahasan umrah untuk yang lain disebutkan.

Para fuqaha secara umum memungkinkan menunaikan umrah untuk yang lain karena umrah sama halnya dengan haji bisa ada badal di dalamnya. Karena haji dan umrah sama-sama ibadah badan dan harta. Namun ada rincian dari pendapat ulama yang ada.

Pendapat Ulama Syafi’iyah

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bisa ada badal umroh atau mengganti menunaikan umrah dari yang lain jika yang diganti adalah mayit atau orang yang masih hidup namun tidak lagi memiliki kemampuan untuk menunaikannya sendiri.

Siapa saja yang sudah dibebani melakukan umrah yang wajib dan punya kemampuan saat itu, namun tidak melakukkannya sampai meninggal dunia, maka wajib menunaikan umrah tersebut oleh orang lain dari harta peninggalan si mayit. Orang lain pun yang tidak ada punya hubungan kerabat jika menunaikan umrah tersebut tetap dianggap sah walau tanpa izinnya. Sebagaimana tetap sah jika ada yang melunasi utang walau tanpa izinnya.

Ulama Syafi’iyah juga berpendapat, bisa juga menunaikan umrah yang sunnah jika yang diganti tidak mampu menunaikan sendiri sebagaimana dapat juga menunaikannya untuk mayit.

Pendapat Ulama Hanafiyah

Ulama Hanafiyah menyatakan mungkin menunaikan umrah dari yang lain atas perintahnya. Karena menggantikan hanya bisa lewat jalan perintah. Kalau ada perintah, lantas dibadalkanlah umrah tersebut, maka dapat. Karena saat itu berarti melakukan hal yang diperintah.

Pendapat Ulama Malikiyah

Ulama Malikiyah menyatakan membadalkan umroh hukumnya makhruh. Namun jika terjadi, tetap sah.

Pendapat Ulama Hambali

Sedangkan ulama Hambali berpendapat bahwa tidak bisa membadalkan orang yang masih hidup kecuali mendapatkan izin darinya. Memang umrah bisa diganti namun butuh akan izin dari orang yang digantikan. Adapun mayit dapat diumrahkan meskipun tidak dengan izinnya.

Dari sini disimpulkan, para ulama masih menganggap berdasarkan dalil dari badal haji, bahwa badal umroh tetap ada. Namun ada perincian yang berbeda dari pendapat ulama madzhab.

Kenapa sampai berdalil dengan badal haji untuk perihal badal umroh? Karena kesimpulan suatu hukum bukan hanya dari melihat dalil secara tekstual, namun juga melihat kesamaan jenis ibadahnya atau memperhatikan โ€˜illahย (pertautan) hukum yang sama. Oleh karenanya, dalam sumber hukum Islam ada yang namanya qiyas.

Ketika ulama Syafi’iyah membicarakan qiyas, mereka menyatakan bahwa qiyas adalah,

ุญู…ู„ ุบูŠุฑ ู…ุนู„ูˆู… ุนู„ู‰ ู…ุนู„ูˆู… ูู‰ ุฅุซุจุงุช ุงู„ุญูƒู… ู„ู‡ู…ุง ุฃูˆ ู†ููŠู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุจุฃู…ุฑ ุฌุงู…ุน ุจูŠู†ู‡ู…ุง ู…ู† ุญูƒู… ุฃูˆ ุตูุฉ

โ€œMembawa (hukum) yang belum diketahui kepada (hukum) yang diketahui dalam rangka menetapkan hukum bagi keduanya, atau meniadakan hukum bagi keduany, disebabkan sesuatu yang menyatukan keduanya, baik hukum maupun sifat.โ€

Qiyas ini juga jadi dalil referensi selain dari Al-Qur’an, hadits dan ijma ‘(kesepakatan) para ulama.

Comments

Tinggalkan Balasan